Kamis, 12 Maret 2015

ANNISA



“Mas, tolong embernya”
“Panci besarnya juga …”
“Bawain kain pel sekalian Mas…” teriak istriku dari ruang tengah.
Hujan di tengah malam ini membuat kami jadi kalang kabut, pas enak-enak tidur, eh ternyata bocor di mana-mana, yang paling menjengkelkan bocornya tepat di atas tempat tidur, kasur pada basah semua, jadinya tidur pun terasa nggak nyaman. Yah beginilah keadaan kontrakan kami, rumah sederhana yang baru kami kontrak. Keadaannya cukup memprihatinkan juga sebenarnya. Tapi apa daya, hanya ini yang bisa kuusahakan, gajiku sebagai pekerja serabutan membuatku untuk hidup sehemat mungkin.
Selama empat bulan pernikahan kami, Alhamdulillah telah membuatku benar-benar merasakan kebahagiaan. Aku benar-benar terprovokasi oleh buku “Kupinang Engkau dengan Hamdallah” buku pertama dari trilogi karya Ustad Fauzil Adhim yang direferensikan temenku. Pokoknya setelah baca buku itu, rasanya pengen banget nikah, abis isinya tentang indahnya pernikahan, bayangin aja, bercumbu, bermesraan kayak meremas tangan istri adalah berpahala, merontokkan dosa-dosa, gimana nggak kepengin, dan banyak hal lainnya, padahal waktu itu bisa dikatakan aku masih belum siap lahir batin, harta cuma sekedarnya, kesiapan batin juga perlu dipertanyakan, pokoknya aku ingin nikah secepatnya, menyempurnakan agama, mencari teman sejati buat menemani perjuangan suci, cieeee. (Brothers banget!)

Alhamdulillah doaku terkabul, Istriku Annisa adalah istri yang baik, kesederhanaanya, kesabarannya membuatku kagum, dia mau menerima keadaan yang serba pas-pasan ini. Namun yang paling penting adalah kesholehannya. Ibadahnya benar-benar perlu aku kasih jempol, beruntung aku bisa mendapatkannya padahal aku masih tergolong awam terhadap agama. Istriku telah membimbingku untuk lebih dekat kepadaNya, menuntunku dij alan petunjukNya, menghiburku dikala sedang susah. Pokoknya dia tuh istri pilihan yang telah mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya, minazh zhulumaati ilannuur, jarang ada akhwat seperti Annisa.
“He he he, lucu yah Nisa kalo lagi bingung, apalagi pas teriak-teriak tadi, lihat aja muka Nisa jadi merah, tapi tambah manis kok” candaku padanya.
“Yeeee, emangnya gula, manis, nih kain pelnya, taruh di belakang aja”
“Otree bos”
Tak berapa lama, akupun kembali keruang tengah menemui istriku. Tampak istriku yang duduk kelelahan di karpet, tampaknya hawa dingin dari hujan ini membuatnya menggigil kedinginan.
“Dingin yah, sini biar Mas dekap” kemudian ditenggelamkan kepalanya ke dadaku, kudekap erat-erat untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti.
“Badan Nisa panas, demam yah ” kutempelkan tanganku ke keningnya, tubuhnya terasa panas.
“Nggak kok Mas, cuma capek aja, ngantuk lagi”
“Bener nggak apa apa, Mas cariin obat yah”
“Nggak usah Mas, malam-malam kayak gini mana ada toko yang buka, apalagi hujan, entar Mas sendiri yang sakit”
“Ya udah kalo gitu”
Sesaat keadaan jadi hening, aku jadi kasian sama istriku, dia tentu belum biasa hidup seperti ini, yang selalu dibayangi dengan himpitan ekonomi, fasilitas rumah tangga yang sederhana, makanan seadanya, bener-bener perjuangan.
“Maafin Mas Iwan ya, Nisa jadi menderita kayak gini”
“Mas Iwan ini gimana sih, dibilangan nggak usah ngomongin itu lagi kok, rezeki itu Allah yang ngatur, kita yang berusaha mencari secara halal dan baik, percayalah Allah Maha Adil” istriku menasihatiku sambil memukul dadaku karena omonganku
“Alhamdulillah kalo Nisa mau nerima, ya moga-moga Allah memberikan kesabaran, dan melapangkan rizki pada kita”
“Amiin… eh ngomong-ngomong bau keringat Mas Iwan, ampun deh, bener-bener harum, bikin nyamuk nggak ada yang mau ndekat” candanya membuatku sedikit lebih tenang, dan dipeluknya aku makin erat, hatiku merasa tentram.
“Tapi janji ya, mau benerin atapnya, masak tiap kali hujan harus kayak gini, kan repot” timpal istriku lagi.
“Insya Allah deh, asal Nisa mau bantuin benerinnya… ” pintaku bergurau
“Yeeee, itu kan kerjaannya laki-laki, tapi jangan kuatir deh, entar Nisa bantu dengan doa aja ya … he he he”
Hujan deras ini telah membuat listrik padam, keadaan menjadi gelap gulita, hanya sesekali terang jika ada kilat. Kurasakan istriku sudah mulai tertidur, tidur dalam dekapanku, dekapan erat yang tak ingin kulepaskan, aku sangat sayang padanya. Tidurlah yang nyenyak kau dipelukanku, aku tak akan mengijinkan nyamuk-nyamuk nakal mengganggu kenyamanan tidurmu, biarkan aku menjagamu, biarlah aku kan menjadi selimut kehangatan bagimu.


“Assalamu’alaikum, Niis, ada tamu?” salamku saat pulang kerumah dengan membawa seseorang.
“Wa’alaikum salam” salamnya, sambil keluar menyambutku.
“Mb.. Mbak Ani” kata istriku dengan terkejut, tampak perubahan muka yang disembunyikan, diulurkannya tangannya pada Ani.
“Assalamu’alakum Dek Nisa, lama yah nggak ketemu” salamnya dengan senyum yang ramah.
“Wa’alaikum salam, iya udah setengah tahunan kayaknya, wah Mbak tambah cakep aja, mari Mbak masuk”
Ani, kakak kelas Nisa juga teman seangkatan denganku semasa kuliah, sekaligus teman SMA di kampung halaman, kami sangat akrab sekali, bahkan sempat sangat dekat, lebih dari sekedar teman, maklumlah saat itu aku masih belum begitu mengenal islam, masih awam, jadi masih merasa nggak bersalah kalo orang nyebut pacaran. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami harus berpisah, harus saling menjaga jarak walau sebenarnya berat rasanya, sulit untuk melupakannya (nggak perlu dicritain ya), namun sejak perpisahannya itu justru telah membuatku dekat dengan dienul islam yang akhirnya mempertemukanku dengan Annisa.
Kedatangannya ke kota ini adalah menjenguk saudaranya yang dirawat di rumah sakit dekat tempat kerjaku, dan secara tak sengaja kami pun bertemu, ya kuajak aja mampir sejenak, walau sebenarnya ada yang mengganjal di hati, entahlah, aku seakan-akan lalai, nggak tahulah apa yang sedang terjadi padaku yang pada akhirnya kubawa Ani kerumahku. Aku tak bisa menipu diriku bahwa aku suka bertemu dengannya, seperti membuka kenangan yang lalu.
“Kapan datangnya Mbak?”
“Kemaren, sama keluarga kok, mau njenguk paman yang sakit”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, sekarang gimana keadaannya”
“Alhamdulillah, udah baikan, insya Allah dua tiga hari udah bisa pulang”
“Syukurlah kalo gitu, udah kerja ya Mbak, kayaknya sukses”
“Alhamdulillah, sudah, cukuplah untuk kebutuhan hidup, mandiri kata orang”
“Wah senang ya.. terus udah punya …. ?”
Ani hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan tersebut. Aku jadi nggak enak sendiri di sana, perasaan gelisah yang menyelimuti hati, aku merasa bersalah mengajaknya ke sini, tapi semua sudah terlanjur, tidak lama dia mampir di rumahku, namun walau singkat sepertinya telah merubah suasana hati keluargaku.
Seminggu kemudian …
Selama beberapa hari terakhir ini, istriku terlihat berbeda, dia menjadi jarang bercanda, lebih banyak diam dan tidak sehangat dulu, mungkin kecemburuannya pada Ani merasuki hatinya, memang beberapa hari terakhir ini, aku sering bertemu dengan Ani di rumah sakit yang memang dekat dengan tempat kerjaku. Perasaan inilah yang saat ini memisahkan kemesraan di antara kami, aku juga merasa bahwa aku jarang memulai bercanda, aku sering melupakannya.
Hari ini adalah hari beratku, aku baru saja di PHK dari kantorku, keadaan ekonomi yang lesu membuat kantorku harus merampingkan karyawannya. Kuputuskan untuk tidak pulang dulu, aku ingin mencari kerjaan seadanya, keadaanku ekonomi rumah tanggaku sudah cukup memprihatinkan, aku tidak bisa mengandalkan pesangon yang diberikan, aku harus mendapat kerja.
“Ya Allah berilah aku kemudahan dan kesabaran ya Allah” doaku sambil berusaha mencari kerja. Entahlah sudah berapa banyak kantor yang kumasuki untuk mencari lowongan, hingga matahari bersembunyi di ufuk barat.
“Aku tidak pernah pulang selarut ini, istriku pasti cemas”
“Assalamu’alaikum, Nis, mas pulang nih” salamku dengan senyum mengambang. Aku ingin tampil bahagia di depan istriku. Aku ingin menyembunyikan kegalauan hatiku.
“Wa’alaikum salam” jawabnya dari dalam, namun dia tidak menyambutku, tidak seperti biasanya.
Kulihat wajahnya yang ditekuk, muram, wah marah nih. Sesaat kemudian setelah membersihkan diri, rasanya sudah tak tahan menahan lapar yang sejak tadi belum makan.
“Wah mas lapar nih, udah makan Nis?” tanyaku padanya, mencoba untuk mengajak makan bersama
“Udah” jawabnya singkat dan ketus
“eeehhmmm, baunya sedap, masak apa ya” kuhampiri meja makan,
Saat kubuka penutup makanan, betapa terkejutnya aku, hanya ada nasi doang, nggak ada sayur, lauk pauk, itupun nasi tadi pagi yang dihangatkan. Entahlah perasaan jengkel melanda diriku, namun aku berusaha untuk mengendalikan diri. Kuambil nasi yang udah mulai dingin tersebut, kukasih garam dan kecap. Yah walau hambar rasanya, tetap aja kumakan.
“Sekarang Mas Iwan udah berubah”
“Sudah mulai melupakan istri, sudah mulai pulang malam”
“Mas sudah tak menyayangi Nisa lagi”
“Mas ingkar janji, hiks hiks”
Sindiran istriku yang berada dalam ruang tengah, walau pelan tapi terdengar jelas. Aku hampir saja tidak bisa menahan amarahku, gimana tidak, aku baru di-PHK, pulang dengan rasa capek dan lapar, tapi setelah pulang disambut dengan seperti ini. Dada terasa meledak-ledak, wajahku terasa merah padam. Kuselesaikan makanku, kuhampiri istriku dengan agak marah, emosiku meluap-luap, kupandang dia dengan tajam.
“Ngomong apa sih Nis…”
“Bukannya menyambut suami, malah ngomel-ngomel, aku kan capek” ucapku tak bisa menahan emosi.
Wajahnya semakin ditekuk, matanya dipincingkan untuk menahan air matanya. Dia pergi menuju kamar dan menutup kepalanya dengan bantal, menyembunyikan suara isak tangisnya.
“Astagfirullah” ucapku berkali-kali sambil menahan gejolak amarahku.
Kuambil air wudlu, kutenangkan pikiranku, dan selalu berdzikir kepadaNya. Bahtera rumah tanggaku mulai menghadapi badai, suatu keadaan yang aku takutkan, aku tidak pernah merasakan begini perasaanku, perasaan yang sangat tidak mengenakkan, perasaan yang telah merenggut kebahagian pernikahanku selama ini, perasaan yang membuat hati menjadi gelisah. Biarlah untuk sementara kubiarkan istriku tidur dikamarnya sendiri, biar dia menenangkan diri dulu, aku harus menyelesaikan permasalahan ini secepatnya biar tidak berlarut-larut, jangan sampai bahteraku pecah gara-gara masalah ini.
Di dua pertiga malamnya, kubangunkan istriku, kuajak untuk berjamaah sholat lail, sudah beberapa hari terakhir ini aku tidak melakukan bersamanya. Kulihat wajahnya udah mulai tenang walau masih muram, masih pendiam, hatinya masih kesal terhadapku.
“…Ya Allah, kokohkanlah bahtera hidup rumah tangga kami, segera selesaikanlah badai yang melanda keluarga kami, berilah kami kesabaran dalam menghadapi cobaanMu, dan tetapkanlah kami kedalam jalan yang Engkau ridhai ya Allah ….”
Penggalan doaku setelah selesai solat malam, Tak terasa air mataku meleleh, berdoa mengharap belas kasihNya, memohon Rahmat dan petunjukNya.
Suasananya begitu tenang, begitu sejuk dan begitu……. Kulihat istriku, kupandangi dengan lembut, bulir-bulir air matanya telah membasahi pipi dan jatuh di mukena putihnya. Akhirnya kupeluk istriku dengan lembut, kudekap erat-erat, kukecup keningnya, aku ingin merasakan kebahagiaan seperti sebelumnya, aku ingin menyelesaikan masalah ini sekarang.
“Maafin Mas yah, Mas telah menyakiti Nisa, jangan marah lagi yah” ucapku padanya, dia pun menundukkan kepalanya.
“Eh marahnya udah selesai belum, kalo belum entar Mas cubit hidung Nisa lho” candaku padanya sambil mencubit hidungnya.
“Masih marah, mau nggak dimasakkin lagi nanti” jawabnya namun dengan nada datar.
“Biarin, entar Mas beli di warung, Nisa nggak Mas kasih sedikit pun” godaku padanya.
“Gimana, masih marah yah, mana pipi Nisa, biar mas cubit, biar merah merona, kayak aisyah ummul mukminin istri Rasulullah, humaira, si merah delima” godaku lagi.
Tersungging senyumnya di balik bibirnya, sungguh tenteram hati ini melihat istriku sudah mau tersenyum lagi, wajahnya sudah mulai berseri-seri lagi.
“Tahu nggak, di dunia ini Nisa adalah akhwat yang paling Mas kasihi setelah ibu, yang paling Mas cintai lho”
“Cieeee, ngrayu nih ceritanya” ledek istriku dengan tersenyum.
“Udah tahu nanya, tapi seneng kan dirayu, atau Mas jelek-jelekin aja…”
“Jahaat… masa’ sama istri sendiri dijelek-jelekkin”
Setelah keadaan menjadi tenang, kujelaskan permasalahanku, kuceritakan tentang kepulanganku yang telat, kujelaskan hubunganku dengan Ani dan berkomitmen terhadap janji pernikahan kami. Dia pun juga minta maaf, diceritakannya juga bahwa saat ini uang belanjanya udah habis, makanya nggak heran kalo tadi malam hidangannya seperti itu. Syukurlah segala kesalahpahaman yang terjadi selesai pagi itu, justru kami semakin dekat, semakin akrab. Alhamdulillah, badai yang melanda bahtera pernikahanku telah berlalu, kebahagian kembali mengalir mengisi hari-hariku.

Beberapa minggu kemudian…
“Nyam-nyam enaq, masakannya bener-bener enak, nyuri resep dari mana nih, perasaan nggak pernah masak kayak gini” ucapku sambil merasakan lezatnya masakan istriku
“He he he, enak aja nyuri, ini resep rahasia keluarga, buat acara spesial”
“Emang sekarang spesial ?”
“Yup”
“Spesial apa ya? Ultah nggak, apa sukuran Mas keterima kerja yang lebih baik ya? Tapi kan itu udah beberapa minggu lalu”
“Mungkin, tapi ada yang lebih spesial” wajah istriku berseri-seri, kayaknya bahagia sekali.
“Udah deh nyerah, apa sih” tanyaku penasaran.
Disodorkannya padaku sebuah surat.
“Hk, alhamdulillah, Nisa hamil, alhamdulillah, aku jadi abi, Nisa jadi ummi, ummi” hampir saja aku tersedak makanan di mulutku ini mendapat kabar ini. Aku akan menjadi abi. Aku melonjak kegirangan seakan melupakan makananku, entah perasaan apa yang melandaku, sulit aku gambarkan kebahagian ini, kabar terindah yang kudengar, sujud syukur padaMu ilahi, aku segera menghampiri istriku.
“Mi, ummi, boleh abi dengerin perut ummi, udah terasa belum jundi kecil abi ini”
“Yeeee abi ini, kan baru 4 bulan bi, ya masih belum kelihatan dong”
“Biarin, abi pengin dengar pokoknya, tuh kan mi, jundi kecil kita lagi bertasbih sekarang, dengerin aja” kutempelken telingaku ke perut istriku seperti ingin mendengarkan sesuatu.
“Bi, bersyukurlah pada Allah bi, bersyukurlah, alhamdulillah”
“Ya Mi, alhamdulillah, semoga nanti anak kita menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua”
“Nah sekarang ummi nggak boleh capek-capek, nggak boleh ….. ” wah sifat cerewetku mulai timbul, entah apa saja yang telah aku katakan, sementara istriku hanya senyum-senyum saja mendengarnya.
“Emangnya ummi ini anak kecil, Abi terlalu berlebihan”
“Wajar dong mi, inikan anak pertama kita”
Malam itupun bertabur kebahagian, pikirankupun bermacam-macam, membayangkan anakku nanti, laki-laki atau perempuan, terus apa yang harus aku lakukan, pokoknya macam-macam deh, sulit melukiskannya.


Saat itu pun datang, istriku akan melahirkan, dari hasil USG sih mengatakan kalo bayinya nanti akan kembar, satu perempuan satu laki-laki. Bingung, cemas menjadi satu ketika istriku sudah bukaan dua (katanya sih, aku sendiri nggak begitu tahu) padahal masih belum di rumah sakit, syukurlah ada tetangga yang mau mengantarkan ke rumah sakit bersalin, kontraksinya pun mulai terasa tiap lima sampai sepuluh menitan, tanda-tanda kelahiran akan tiba.
“Pak, mau menemani istrinya nggak, tega nggak” tanya suster
pengin rasanya menemani istriku, tapi rasanya aku justru akan mengganggu suster-suster tersebut.
“Nggak usah saja, saya nggak tega, nanti jadi ganggu”
Perasaan tegang menuyelimutiku, aku hanya bisa mondar mandir di depan pintu kamar bersalinnya
“.. ya Allah, berilah kami kekuatan ya Alloh, Selamatkanlah istri dan anakku ya Alloh…”
Lahir juga anakku, anak kembar laki-laki dan perempuan, alhamdulillah semua sehat-sehat saja istriku tampak lelah setelah melahirkan, tapi ada kebahagiaan yang terpancar diwajahnya.
“Wah tampan dan cantik anaknya”
“Beratnya 3.6 kg dengan panjang 55 cm, lihat gagahnya anak itu” hibur suster yang membantu melahirkan.
Berdasarkan kesepakatanku dengan istriku, yang laki-laki kuberi nama Sholahuddin al Ayubi yang kuambil dari tokoh panglima perang saat perang salib, semoga dia menjadi tentara Allah dalam menegakkan Islam. Yang perempuan sama istriku dikasih nama Fatimah az Zahra, mengambil dari nama putri kesayangan rasulullah, si bunga mawar yang indah dipandang, tetapi berduri jika dipegang.
Itulah kebahagian yang kudapatkan, semua baik-baik saja, istriku, anak-anakku, hanya kepada Allah segala puji-pujian.

THE END
Ditulis oleh bibilung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar